KUNANG KUNANG KEBENARAN DILANGIT MALAM

image

Banyak cerita dan versi dari berbagai narasumber tentang Tragedi G30/S PKI , Namun dgn hadirnya buku ini ada secerca cahaya terang, sejak peluncurannya pada oktober 2001 sampai saat ini masih banyak orang yang tidak mengetahui apa isi buku ini, bahkan dibeberapa toko buku sudah tidak beredar lagi dan beberapa loakan buku buku Lama pun saya tidak menemuinya, bersyukur karna salah satu kawan saya masih keturunan saksi hidup tragedi Biadab tersebut, bahkan saya.punya banyak koleksi buku mulai dari buku buatan Orang Orang PKI ( yang benci Alm. Pres Soeharto ) sampai buku buatan Saksi hidup kejahatan PKI.

Buku 250 halaman tersebut
merupakan hasil penuturan
”alamiah” putra-putri pahlawan
revolusi (yang kala itu masih
remaja dan anak-anak), keluarga
korban dan saksi-saksi yang
merasakan tragedi pada subuh 1
hingga 5 Oktober 1965. Penuturan
itu lebih dari tiga dekade
terpendam dalam ingatan mereka
dan masih menyisakan berbagai
polemik atau kontroversi di tengah
masyarakat.

Dalam sambutan menjelang
peluncuran buku tersebut, Dr Nani
Nurochman Soetojo Siswomihardjo
memberikan pernyataan pembuka.

”Sekarang kami baru bisa dan mau
bertutur tentang apa yang kami
alami sendiri pada 1 hingga 5
Oktober 1965,” kata dosen Fakultas
Psikologi UI yang juga putri satu-
satunya Mayjen TNI (Anumerta)
Soetojo Siswomihardjo tersebut.
Nani yang didampingi putra-putri
pahlawan revolusi mengatakan,
penulisan buku tersebut sarat
dengan pendekatan kemanusiaan,
yang sebenarnya bagi dia dan
rekan-rekannya senasib sangat
berat untuk dilakukan.

”Sebab, apa pun alasannya,
penuturan peristiwa tragis yang
traumatis bukanlah sesuatu yang
mudah kami ungkapkan. Karena
itu, tuturan kami ini hanyalah sisi
kemanusiaan yang kami coba
hadirkan di tengah segala
keterbatasan kami.”
Sementara itu, Herlia Emmy Rudiati
A Yani mengemukakan, buku
tersebut bukanlah analisis politik
dan tidak dimaksudkan sebagai
buku sejarah.
”Ini hanyalah upaya kami
memberikan kepada anak-cucu
kami. Semoga apa yang kami alami
tidak akan mereka alami. Kami juga
ingin memberikan pesan moral dan
ketabahan,” kata anak kedua
Jenderal TNI (Anumerta) Ahmad
Yani itu.

”Namun, kami pun tidak menutup
mata jika penyusunan buku ini juga
berawal dari keprihatinan atas
distorsi fakta yang membuat kami
terjaga. Sebab, setahun yang lalu
muncul berbagai versi tentang
kejadian yang sama.”
Bukan Satu-satunya
Menurut Amelia Yani (anak ketiga
Ahmad Yani), putra-putri pahlawan
revolusi juga tidak beranggapan
mereka satu-satunya yang benar.
Namun, yang tertuang dalam buku
itu adalah penuturan mereka selaku
remaja dan anak-anak yang
mengalami peristiwa luar biasa
tersebut.

”Kami tetap mengakui betapa kami
lemah untuk mencerna situasi
politik ketika itu. Gaya kami yang
lugu dan pesan kemanusiaan yang
kami kedepankan dalam buku
tersebut membuat kami sepakat
memilih judul ‘Kunang-kunang’.
Jadi, kami sama sekali ndak mau
ngrasani atau ”nembak” orang
lain,” kata istri pengusaha
Soebronto Laras tersebut.
Mengenai tujuan meluruskan
sejarah, Suryanti Sahala Nasution
mengatakan , biarlah proses
berbangsa dan bernegara yang ikut
memberikan titik terang, walau dia
sebenarnya juga melihat masih ada
yang perlu diluruskan.

”Seperti adik saya Ade Irma
Suryani. Dia ditembak dari jarak
dekat, tidak seperti yang di film.
Saya merasa buku ini perlu kami
buat. Sebab, setiap tahun
menjelang 1 Oktober, masyarakat
yang berkunjung ke rumah kami
selalu bertanya bagaimana yang
sebenarnya terjadi. Kami terpaksa
menceritakan walaupun itu sangat
berat, karena memberikan
kenangan pahit bagi kami,” kata
putri Jenderal Besar AH Nasution
tersebut.

Hal yang sama juga dikatakan
Salomo Pandjaitan. Dia
menyebutkan, selalu saja ada
pertanyaan dari rekan, bahkan
atasannya, tentang apa yang dia
alami saat itu.

”Mumpung kami masih hidup dan
masih ingat peristiwa yang kami
rasakan dalam lingkup keluarga
kami dan juga keluarga saudara
kami yang senasib sepenanggungan.

Mudah-mudahan yang belum
tersampaikan bagi anak bangsa
dapat tersampaikan lewat buku
ini,” kata putra Mayjen TNI
(Anumerta) DI Pandjaitan tersebut.

Buku yang pada peluncuran
pertama dibuat 300 eksemplar itu
dibagi dalam tujuh bab. Pada bab II
tergambar penuturan putra-putri
tentang ayah mereka, pengalaman
menarik bersama keluarga dan
dampak yang harus mereka terima
sepeninggal ayah mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s